Sabtu, 31 Oktober 2015

(D)INGIN

Aku ingin cukup candu. Seperti kopi yang sering kamu seduh. Biar malam mu larut dalam rindu.

Aku ingin lekat. Seperti kopi hitam pekat. Yang kau minum hangat-hangat. Mungkin sambil mengingat, atau malah sudah lekat?

Aku ingin jadi Sabtu. Yang selalu kamu tunggu. Bukan malah buat tergugu. Atau justru ngilu. Karena bahkan aku kelu. Karena terlalu sering ingat dulu.

Aku pernah ingin jadi sabtu mu yang lekat dan buat candu. Buat kamu lupa punya minggu, atau rabu karena yang ada hanya sabtu. Hanya aku. Dulu.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Cangkir-cangkir Kopi

Aku punya secangkir pertanyaan untukmu. Yang mungkin tak akan pernah habis walau kau sesap sedikit-sedikit. Tidak sebanyak bualanmu tentang cinta, namun cukup untuk mengingatkan kita punya kemarin.
Sudah kuceritakan pada malam tentang cangkir cangkir yang kering dalam upaya mencegahmu datang malam-malam.
Tapi bukan lupa. Kemarin malah datang menghampiri. Menikam perlahan, sebelum aku terlelap di antara lembar-lembar matriks. Bukannya lebih memilih ordo-ordo matriks ketimbang kamu. Hanya ingin sibuk dalam usaha untuk lupa. Mencegahmu merangsak masuk. Memutar malam-malam kemarin yang kuhabiskan dengan perlahan, seperti menyesap kopi. Setengah percuma memang, karena kamu dan kopi itu serupa. Sama-sama buat malam semakin larut dalam pekat.
"Candu." Ujarmu tentang kopi. Bagiku kamu, jika kau tanya tentang kopi.
Kau harus tanggung jawab. Gelas kopiku makin banyak semenjak percakapan kita kemarin. Kamu masih sering melongok dari dasar gelas kopiku. Membayang di antara cairan hitam yang mengepul.

Ini gelas terakhir, sebelum benar benar lelap. Sudah kusesap perlahan, semoga dengan begitu kamu pun hilang perlahan. Bukan. Bukan mengusir, hanya tak ingin terlalu larut pada kemarin. Khawatir terlalu candu. Pertanyaanku sedang kuteguk. Biar saja hilang. Toh kau tak mungkin menjawabnya. Terimakasih sudah jadi kopi.