Sabtu, 26 Maret 2016

Skala

Aku sembilan. Di antara skala satu sampai sepuluh mu yang terisi penuh. Satu-mu rutinitas. Kamu deras yang tergerus arus. Terjebak, kadang malah pupus. Dua mu cabang. Persimpangan di antara sekian banyak hal. Perihal ragu, misalnya. Tiga adalah jeda. Jarak yang selalu terjaga. Empat adalah waktu. Dua puluh empat jam yang kamu upayakan sempat. Tapi aku jarang libat. Lebih pilih lihat. Lima mu  ragu. Serupa aku, si Abu-abu. Enam adalah rencana. Perihal yang sudah atau sedang usai. Tujuh adalah minat. Kamu mudah dekat atau lekat.
Sedangkan delapan adalah pembagi. Kamu bisa pergi atau berlari tanpa ingkar salah satu. Barangkali sepuluh mu rindu. Aku lebih dulu. Yang bakal dihubungi sebelum tidur. Karena katamu candu. Bukan begitu?

Jumat, 19 Februari 2016

Untuk Tuan yang Memburu Sabtu dan Dikejar Minggu

Senin selalu datang bergegas. Meninggalkan Sabtu yang tersuruk-suruk dan Minggu yang berjalan tergesa. Aku dibuat menghitung mundur. Dengan jam yang selalu kendur. Dan kamu yang datang mulur. Barangkali aku penakut. Kamu diam begitu saja kadang buat kisut. Lebih pilih mundur dan surut. Takut. Kamu lebih serupa kabut. Datang berturut-turut malah kadang buat kusut.
Kita punya tujuh seminggu. Kau ditunggu, maka jangan ragu.

Jumat, 12 Februari 2016

Seminggu

Barangkali Rabu buat rindu. Selayaknya Senin yang kita habiskan dengan bergelas kafein. Atau Selasa yang katamu mati rasa. Duh Tuan, bukannya Kamis-mu manis? Seperti coklat hari Jum'at. Ah, biar Sabtu kita jadi satu. Lalu tergugu pada Minggu.

Kamis, 11 Februari 2016

Sekat

Dengan sendirinya kita mengotak-ngotak. Menimbulkan sekat sekat baru yang membatasi apa-apa yang tertinggal kemarin. Kamu khawatir aku. Begitu pun aku. Kita sama sama menjaga tanpa tahu masing masing dari kita sudah tahu. Jauh sebelum itu, malah. Lalu bagaimana? Akan kau robohkan sekatmu? Atau justru membangunnya lebih tinggi?
Aku bisa pura-pura lupa. Kemudian kita sama-sama alpa. Mengubur kemarin dalam sekat yang hanya diketahui masing-masing. Kamu mau?
Barangkali batas tak perlu lebur. Biar kita yang baur. Kita bisa mencoba berjalan tanpa tersungkur. Dan apabila kalah, kita bisa mundur. Menggali kemarin yang kita coba kubur. Kamu mau? Biar kutemani lembur.

Sabtu, 31 Oktober 2015

(D)INGIN

Aku ingin cukup candu. Seperti kopi yang sering kamu seduh. Biar malam mu larut dalam rindu.

Aku ingin lekat. Seperti kopi hitam pekat. Yang kau minum hangat-hangat. Mungkin sambil mengingat, atau malah sudah lekat?

Aku ingin jadi Sabtu. Yang selalu kamu tunggu. Bukan malah buat tergugu. Atau justru ngilu. Karena bahkan aku kelu. Karena terlalu sering ingat dulu.

Aku pernah ingin jadi sabtu mu yang lekat dan buat candu. Buat kamu lupa punya minggu, atau rabu karena yang ada hanya sabtu. Hanya aku. Dulu.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Cangkir-cangkir Kopi

Aku punya secangkir pertanyaan untukmu. Yang mungkin tak akan pernah habis walau kau sesap sedikit-sedikit. Tidak sebanyak bualanmu tentang cinta, namun cukup untuk mengingatkan kita punya kemarin.
Sudah kuceritakan pada malam tentang cangkir cangkir yang kering dalam upaya mencegahmu datang malam-malam.
Tapi bukan lupa. Kemarin malah datang menghampiri. Menikam perlahan, sebelum aku terlelap di antara lembar-lembar matriks. Bukannya lebih memilih ordo-ordo matriks ketimbang kamu. Hanya ingin sibuk dalam usaha untuk lupa. Mencegahmu merangsak masuk. Memutar malam-malam kemarin yang kuhabiskan dengan perlahan, seperti menyesap kopi. Setengah percuma memang, karena kamu dan kopi itu serupa. Sama-sama buat malam semakin larut dalam pekat.
"Candu." Ujarmu tentang kopi. Bagiku kamu, jika kau tanya tentang kopi.
Kau harus tanggung jawab. Gelas kopiku makin banyak semenjak percakapan kita kemarin. Kamu masih sering melongok dari dasar gelas kopiku. Membayang di antara cairan hitam yang mengepul.

Ini gelas terakhir, sebelum benar benar lelap. Sudah kusesap perlahan, semoga dengan begitu kamu pun hilang perlahan. Bukan. Bukan mengusir, hanya tak ingin terlalu larut pada kemarin. Khawatir terlalu candu. Pertanyaanku sedang kuteguk. Biar saja hilang. Toh kau tak mungkin menjawabnya. Terimakasih sudah jadi kopi.