Kamis, 11 Februari 2016

Sekat

Dengan sendirinya kita mengotak-ngotak. Menimbulkan sekat sekat baru yang membatasi apa-apa yang tertinggal kemarin. Kamu khawatir aku. Begitu pun aku. Kita sama sama menjaga tanpa tahu masing masing dari kita sudah tahu. Jauh sebelum itu, malah. Lalu bagaimana? Akan kau robohkan sekatmu? Atau justru membangunnya lebih tinggi?
Aku bisa pura-pura lupa. Kemudian kita sama-sama alpa. Mengubur kemarin dalam sekat yang hanya diketahui masing-masing. Kamu mau?
Barangkali batas tak perlu lebur. Biar kita yang baur. Kita bisa mencoba berjalan tanpa tersungkur. Dan apabila kalah, kita bisa mundur. Menggali kemarin yang kita coba kubur. Kamu mau? Biar kutemani lembur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar