Senin selalu datang bergegas. Meninggalkan Sabtu yang tersuruk-suruk dan Minggu yang berjalan tergesa. Aku dibuat menghitung mundur. Dengan jam yang selalu kendur. Dan kamu yang datang mulur. Barangkali aku penakut. Kamu diam begitu saja kadang buat kisut. Lebih pilih mundur dan surut. Takut. Kamu lebih serupa kabut. Datang berturut-turut malah kadang buat kusut.
Kita punya tujuh seminggu. Kau ditunggu, maka jangan ragu.
Jumat, 19 Februari 2016
Untuk Tuan yang Memburu Sabtu dan Dikejar Minggu
Jumat, 12 Februari 2016
Seminggu
Barangkali Rabu buat rindu. Selayaknya Senin yang kita habiskan dengan bergelas kafein. Atau Selasa yang katamu mati rasa. Duh Tuan, bukannya Kamis-mu manis? Seperti coklat hari Jum'at. Ah, biar Sabtu kita jadi satu. Lalu tergugu pada Minggu.
Kamis, 11 Februari 2016
Sekat
Dengan sendirinya kita mengotak-ngotak. Menimbulkan sekat sekat baru yang membatasi apa-apa yang tertinggal kemarin. Kamu khawatir aku. Begitu pun aku. Kita sama sama menjaga tanpa tahu masing masing dari kita sudah tahu. Jauh sebelum itu, malah. Lalu bagaimana? Akan kau robohkan sekatmu? Atau justru membangunnya lebih tinggi?
Aku bisa pura-pura lupa. Kemudian kita sama-sama alpa. Mengubur kemarin dalam sekat yang hanya diketahui masing-masing. Kamu mau?
Barangkali batas tak perlu lebur. Biar kita yang baur. Kita bisa mencoba berjalan tanpa tersungkur. Dan apabila kalah, kita bisa mundur. Menggali kemarin yang kita coba kubur. Kamu mau? Biar kutemani lembur.